Viral! Detik-Detik Eksekusi Massal 102 Gengster Kuluna di Kongo yang Tuai Protes HAM
![]() |
Viral! Detik-Detik Eksekusi Massal 102 Gengster Kuluna di Kongo yang Tuai Protes HAM - Republik Demokratik Kongo (DRC) baru-baru ini menggemparkan dunia internasional dengan tindakan drastis dalam menangani krisis keamanan di ibu kotanya, Kinshasa. Pemerintah setempat dilaporkan telah melaksanakan eksekusi mati terhadap 102 orang yang terbukti terlibat dalam kejahatan kekerasan sebagai anggota gangster jalanan yang sangat ditakuti, yang dikenal dengan sebutan Kuluna.
DokumenternyaAlternatif
https://gofile.io/d/X6EvcbChannel Bahas Video ViralChannel Telegram
Tidak berhenti di situ, 70 anggota gangster lainnya kini dikabarkan tengah menunggu giliran untuk menghadapi hukuman serupa dalam waktu dekat. gangster Kuluna bukanlah nama baru dalam peta kriminalitas di Kongo. Kelompok ini telah lama menjadi momok menakutkan bagi warga Kinshasa.
Mereka dikenal karena aksi-aksinya yang brutal dan liar, mulai dari membuat keonaran di jalanan, perampokan bersenjata, hingga tindakan pencurian yang disertai kekerasan terhadap warga sipil. Keresahan masyarakat mencapai titik jenuh karena rasa tidak aman yang menyelimuti kota.
Banyak warga mengungkapkan bahwa setelah pukul delapan malam, mereka tidak lagi berani beraktivitas di luar rumah. Ketakutan akan bertemu dengan anggota gangster Kuluna telah melumpuhkan perekonomian dan sosmenghambat aktifitas di beberapa wilayah ibu kota. Tekanan publik yang masif inilah yang kemudian mendorong pemerintah untuk mengambil langkah ekstrem.
Beberapa waktu yang lalu sempat viral video di media sosial, khususnya TikTok, menyebutkan angka yang lebih tinggi, yakni sekitar 180 tahanan yang telah dieksekusi. Namun, berdasarkan laporan terbaru, angka tersebut perlu diklarifikasi. Hingga saat ini, jumlah tahanan yang dipastikan telah dieksekusi berjumlah 102 orang. Sisanya, sekitar 70 orang, masih berada dalam proses administrasi hukum sebelum menjalani hukuman mati.
Pemerintah Kongo mengonfirmasi bahwa eksekusi ini dilakukan secara tertutup. Langkah ini diklaim sebagai strategi "terakhir" dan satu-satunya cara yang efektif untuk memberikan efek jera (deterrent effect) yang nyata bagi kelompok kriminal lain agar tidak mengulangi tindakan serupa. Bagi pemerintah, stabilitas keamanan nasional dan keselamatan warga sipil menjadi prioritas utama yang tidak bisa dikompromikan.
Meskipun tujuan utamanya adalah memberantas kriminalitas, proses eksekusi ini memicu perdebatan sengit mengenai keadilan hukum. Laporan menyebutkan bahwa para anggota gangster ini ditangkap dan ditahan dalam waktu yang sangat singkat. Banyak pihak meragukan apakah para terdakwa diberikan hak yang cukup untuk membela diri atau mendapatkan proses peradilan yang transparan.
Setelah penangkapan, para gangster ini seolah langsung dihadapkan pada vonis mati tanpa adanya kesempatan banding yang memadai. Kecepatan proses dari penangkapan hingga eksekusi inilah yang menjadi sorotan tajam bagi pengamat hukum internasional.
Tindakan eksekusi massal ini menuai gelombang kritik dari berbagai organisasi Hak Asasi Manusia (HAM) dunia. Mereka menyuarakan kekhawatiran mendalam mengenai potensi pelanggaran HAM berat dan pengabaian prinsip due process of law (proses hukum yang adil).
Para aktivis HAM berargumen bahwa hukuman mati, terutama yang dilakukan secara massal dan terburu-buru, tidak menyelesaikan akar permasalahan sosial yang menyebabkan munculnya geng seperti Kuluna, seperti kemiskinan dan pengangguran.
Mereka mengecam metode "binasa" yang dianggap tidak manusiawi dan menuntut pemerintah Kongo untuk meninjau kembali kebijakan tersebut demi menghormati martabat manusia.
Eksekusi 102 tahanan di Kongo menjadi pengingat pahit tentang betapa tipisnya batas antara penegakan hukum yang tegas dan pelanggaran hak asasi manusia. Di satu sisi, langkah ini memberikan rasa lega bagi sebagian warga Kinshasa yang mendambakan keamanan.
Di sisi lain, dunia internasional melihatnya sebagai kemunduran dalam standar peradilan modern. Saat 70 tahanan lainnya menunggu nasib di ujung bedil, mata dunia kini tertuju pada Kongo, mempertanyakan apakah keamanan memang harus dibayar dengan harga nyawa tanpa melalui proses keadilan yang semestinya.
Ya walaupun ini merupakan kebijakan negara mereka demi memberikan keadilan seadil adilnya terhadap para korban dan sekaligus mengurangi angka kriminal secara drastis, tindakan tersebut seakan salah di mata HAM.

Saweria
Belum ada Komentar untuk "Viral! Detik-Detik Eksekusi Massal 102 Gengster Kuluna di Kongo yang Tuai Protes HAM"
Posting Komentar