Nasib Tragis Utusan PBB: Dieksekusi Secara Sadis oleh Kelompok Milisi Saat Jalankan Tugas HAM di Kongo

Sumber poto: x.com/soniarolley

Nasib Tragis Utusan PBB: Dieksekusi Secara Sadis oleh Kelompok Milisi Saat Jalankan Tugas HAM di Kongo - Dunia internasional pernah dikejutkan oleh sebuah tragedi kemanusiaan yang sangat kelam di Republik Demokratik Kongo pada Maret 2017. Dua orang pakar dari Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) yang sedang mengemban misi penyelidikan hak asasi manusia, Michael Sharp dan Zaida Catalan, harus meregang nyawa dengan cara yang sangat tragis. 

Peristiwa ini tidak hanya menjadi duka bagi keluarga korban, tetapi juga menjadi tamparan keras bagi misi perdamaian dunia di wilayah konflik Afrika yang tak kunjung stabil.

Dokumenternya

Channel Bahas Video Viral
Facebook

Kawasan Kasai di Kongo saat itu memang sedang membara. Ketegangan antara milisi anti-pemerintah dengan pasukan keamanan negara menciptakan lubang hitam hukum yang membahayakan siapa saja yang berani masuk, termasuk mereka yang membawa bendera PBB. Namun, Michael Sharp, seorang warga Amerika Serikat, dan Zaida Catalan, warga Swedia, tetap melangkah maju demi mengungkap kebenaran di balik laporan pembantaian warga sipil.

Misi Investigasi di Jantung Konflik

Michael Sharp dan Zaida Catalan bukanlah orang baru dalam urusan resolusi konflik. Mereka ditugaskan oleh PBB sebagai bagian dari tim ahli untuk menyelidiki aktivitas milisi Kamwina Nsapu. Kelompok ini dikenal sebagai milisi radikal yang sering merekrut tentara anak dan melakukan tindakan kekerasan ekstrem terhadap warga lokal yang dianggap tidak sejalan dengan perjuangan mereka.

Tugas utama Sharp dan Catalan adalah memetakan lokasi kuburan massal yang diduga berisi ratusan warga sipil korban keganasan milisi. Mereka juga ditugaskan memantau sanksi embargo senjata di wilayah tersebut. Sayangnya, keberadaan mereka dianggap sebagai ancaman oleh kelompok Kamwina Nsapu yang merasa gerak-geriknya sedang diintai oleh dunia internasional.

Kronologi Penculikan dan Eksekusi Sadis

Pada pertengahan Maret 2017, Sharp dan Catalan sedang dalam perjalanan darat bersama beberapa penerjemah dan pengemudi lokal di wilayah Kasai Tengah. Di tengah perjalanan, iring-iringan mereka dicegat oleh sekelompok anggota milisi Kamwina Nsapu yang bersenjata lengkap. Tanpa perlawanan yang berarti, kedua pakar PBB ini dipaksa turun dan dibawa masuk jauh ke dalam hutan belantara.

Rekaman video yang kemudian beredar menunjukkan detik-detik terakhir yang sangat memilukan. Di sebuah semak-semak di tepi hutan, tanpa ada proses negosiasi atau basa-basi, para milisi memerintahkan kedua utusan PBB ini untuk duduk. Dalam suasana yang mencekam, para eksekutor langsung melepaskan tembakan jarak dekat yang membuat Sharp dan Catalan tewas seketika. 

Tidak berhenti di situ, dengan penuh kebencian, milisi tersebut menggunakan parang untuk memutilasi jenazah kedua korban sebagai bentuk intimidasi kepada siapapun yang berani mencampuri urusan mereka. (Hadeh di kira PBB kek organisasi Kartel kali ya, padahal dampaknya mereka bisa di incer satu dunia internasional, apalagi kedua orang ini merupakan pakar PBB).

Pencarian Selama Dua Minggu yang Menyakitkan

Setelah kehilangan kontak selama dua minggu, tim pencari gabungan akhirnya menemukan titik terang. Jenazah Michael Sharp dan Zaida Catalan ditemukan terkubur secara dangkal di daerah terpencil yang sulit dijangkau. Kondisi jenazah saat ditemukan sangat mengenaskan, yang mengonfirmasi bahwa mereka telah menjadi korban tindak kekerasan luar biasa sebelum dan sesudah kematiannya.

Kabar ini langsung memicu gelombang kemarahan dari New York hingga Stockholm. PBB mengutuk keras pembunuhan ini sebagai kejahatan perang. Namun, di balik kemarahan tersebut, muncul fakta pahit bahwa wilayah Kasai masih sangat tidak aman, bahkan bagi petugas kemanusiaan dengan mandat resmi internasional sekalipun.

Kegagalan Diplomasi dan Penolakan Bantuan

Pasca tragedi tersebut, Amerika Serikat dan Swedia, negara asal kedua korban menawarkan bantuan pasukan khusus dan tim investigasi forensik tingkat lanjut untuk membantu pemerintah Kongo memburu para pelaku. Namun, tawaran ini ditolak secara halus oleh pemerintah Kongo melalui duta besar mereka, Gatta Mavita. Pemerintah Kongo bersikeras bahwa mereka mampu menyelesaikan kasus ini sendiri tanpa campur tangan militer asing.

Keputusan ini dikemudian hari dianggap sebagai kesalahan besar. Penolakan bantuan tersebut membuat proses penangkapan eksekutor utama menjadi lamban. Meskipun 11 orang tersangka berhasil ditangkap dan diadili, banyak pihak merasa bahwa dalang utama di balik perintah pembunuhan tersebut masih bebas berkeliaran di hutan-hutan Kongo.

Hubungan dengan Gangster Kuluna dan Dampak Jangka Panjang

Ada spekulasi menarik yang berkembang bahwa kelompok milisi Kamwina Nsapu ini memiliki keterkaitan dengan munculnya geng-geng kriminal di wilayah perkotaan seperti Kinshasa, yang dikenal dengan nama Gangster Kuluna. Gangster Kuluna, yang baru-baru ini dimusnahkan secara massal oleh pemerintah Kongo, disebut-sebut sebagai pecahan atau sel tidur dari kelompok milisi anti-pemerintah yang beroperasi di pedalaman.

Tindakan keras pemerintah Kongo saat ini, yang bahkan mengeksekusi tahanan secara massal, dilihat oleh beberapa pengamat sebagai langkah frustrasi sekaligus penebusan dosa atas kegagalan mereka di tahun 2017. Pemerintah seolah ingin menunjukkan bahwa mereka kini tidak akan lagi memberi ruang bagi kelompok radikal manapun untuk tumbuh, demi mencegah terulangnya tragedi seperti yang menimpa Sharp dan Catalan.

Kini, nama Michael Sharp dan Zaida Catalan abadi sebagai pahlawan kemanusiaan yang gugur di medan tugas. Tragedi mereka menjadi pelajaran berharga bagi PBB dalam menyusun protokol keamanan di zona merah. 

Bagi masyarakat Kongo, peristiwa ini adalah pengingat bahwa konflik yang dibiarkan berlarut-larut hanya akan melahirkan monster-monster kekerasan yang tidak mengenal batas kemanusiaan. Akhir hidup mereka di pedalaman Kasai akan selalu dikenang sebagai salah satu pengorbanan terbesar dalam misi mencari keadilan di tanah Afrika.

Belum ada Komentar untuk "Nasib Tragis Utusan PBB: Dieksekusi Secara Sadis oleh Kelompok Milisi Saat Jalankan Tugas HAM di Kongo"

Posting Komentar

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel

Recommended for you